Kehilangan
Siang itu tiba-tiba saja rasanya seperti mau ada yang hilang dalam diriku, pada hal aku merasa baik-baik saja. Cerewetku berubah jadi bisu diam seribu bahasa tanpa alsan. Bahkan tidak ada hasratku menghilang begitu saja. Siang itu aku menerima kabar Alan meninggal. Alana seorang teman di salah satu organisasi di kampus orang yang pernah sangatku kagumi. Orang yang baik dan tidak pernah meninggalkanku sendiri.
Entah bagaimana aku membayangkan dirinya dalam hidupku, yang aku ingat saat ini hanya dia sudah tidak ada lagi. Cerita ini sudah berakhir sejak saat itu. Di matanya aku seperti seorang adik yang selalu memilih sendiri. Dan di mataku dia adalah seorang lelaki yang selalu menemaniku. Satu hal yang selalu aku ingat, Alan tidak pernah menang dariku saat main jentikan. Dia selalu kesel setiap kalah pada hal dia tidak pernah menang.
Pernah suatu kita magrab bersama organisasi. Kebiasaan jelekku yang suka menyendiri membuat beberapa kakak tingkatan khawatir, Termasuk Alan. Aku memang sedikit pemaslan utnuk bergerak jadi aku tidak pindah dari tempatku duduk semula saat itu pada hal beberapa teman sudah ada yang tidur atau minggir menikmati malam saat itu. Dengan ekspresi khawatir dia datang menghampiriku, menanyakan "Kenapa tidak tidur?" "Tidak, kak" aku hanya menjawab itu. Dia mengajakku berkumpul dengan yang lain dengan nada sedikit memaksa karna takut aku kerasukan katanya.
Meski semua berubah saat dia mulai berpacaran dengan teman kita yang satu organisasi. Aku tidak kecewa karna dia pantas mendapatkan seorang wanita yang baik untuknya. Setidaknya terimakasih Alan pernah mampir sejenak dalam hidupku.
Sejak itu kita tak lagi dekat, karna kita menyadari keadaannya. Aku turut bahagia untuknya. Aku tidak pernah bertemu seorang lelaki yang baik seperti dia. Yang meski dia tahu perasanku dia tidak mendorongku keluar dari hidupnya.
Aku hanya penggagum rahasia yang tinggal dalam kensunyian di sudut malam tanpa cahaya. Seperti itulah aku. Hanya doaku yang selalu mengiringi langkahnya.
Suatu hari aku dengar kabar dia memutuskan pindah kampus. Disitulah hancur hatiku. Tak apa bagiku dia tidak melihatku tapi jika aku tak lagi bisa bertemu dengannya itu sungguh menyesakkan. Tapi sekali lagi aku hanya menangis dalam diam. Merintih dalam gelap. Dan sekali lagi berdoa dalam keheningan dan sepi ini.
Selang satu tahun Alan memutuskan untuk kembali. Betapa bahagia hatiku saat mengetahui itu. Dan sekali lagi dia berdiri di depanku. Tapi tatapanya berubah terasa hampa. Meski berdiri di depanku dia tak lagi melihatku, Seperti tak lagi mengenalku.
Tak apa aku menrimanya meski hanya melihatnya. Tapi dengan kejadian itu aku selalu menghindarinya, aku hanya bearani menyapanya saja. Meski satu kelas kita tidak pernah ngobrol. Terakhir kali aku bertemu dengannya di kampus dan saat itu dia seperti linglung tidak lagi mengenaliku. Ku pikir dia tak lagi mau mengenalku. Sungguh ketidak pekaanku yang menjdi penyesalan terdalamku.
Seandainya waktu berpihak padaku sedikit saja seben tar saja aku hanya ingin berterimakasih untuk semuanya. Orang baik selalu di sayang Allah. Dia pergi lebih dulu.
Sore itu kita teman satu organisasi mengadakan yasinan bersama di bascame. Rencana besok siang Alan akan di makamkan di Magelang. Sunggu aku berusaha untuk tidak meneteskan air mata, karna aku sadar aku bukan siapa-siapa. Setidaknya di depan teman-temanku aku tidak meneteskan air mata.
Setelah yasinan aku pulang barulah saat itu aku menangis sejadi-jadinya. Ada rasa sakit yang menyekik dadaku. Seperti ada beban yang di himpitkan dalam nafasku. Ini berat..ini sakit. Tiba-tiba seperti aku mendengar suaranya "Jangan Menangis itu membuatku sedih." Apakah aku sedang berkhayal...atau memang aku sudah benar-benar gila. Aku merasakan saat itu dia ada di sampingku. Ya Allah cobaan apa lagi ini, teriakku dalam hati. Perlahan-lahan air mataku berkurang.
Saat itu aku memang berniat mau pergi ke magelang setidaknya aku harus mengiringi perginya untuk yang terakhir. aku hanya berbicara dalam hati. Tapi seperti dia tahu "Jangan pergi! Magelang itu jauh." antara penasaran tapi seneng banget. Ya..walau hanya suara antara nyata dan tidak aku tetap bahagia. Seperti dia ada di sampingku, merasakan itu sudah membuatku tenang.
Tidak seperti biasanya, pagi itu aku bangun sangat pagi. Dan masih saja aku mendengar suara yang sama. "Jauh istrahat saja di rumah." Tapi aku tidak menghiraukan suara-suara itu. Setidaknya sekali biarkan aku mengiringinya untuk yang terakhir. Hanya itu saja keinginanku.
Kami sampai di kota magelang jam 10 pagi kurang lebih. Dan d makamkan kurang lebih jam 11an. Aku sudah menguatkan hatiku agar jangan sampai menangis. Jangan sampai ada yang melihat air mata ini. Atau kesedihan ini, rasa kehilangan ini biar menjadi milikiku saja.
Saat jasadnya di masukan keliang lahat, saat hatiku benar-benar tidak memiliki pertahanan apapun. Air mataku terus saja menetes meski aku sudah berusaha sekuat hati. Sungguh hancur hatiku berkeping-keping. Seperti baru kemarin kita bertemu, baru kemarin aku menyapanya. Sekarang dia hanya tinggal cerita dalam anganku.
Sejak itu entah kegilaan apa yang ada dalam diriku, aku merasa dia menemaniku. Saat aku pulang malam-malam sepertinya dia ada sampingku. Saat aku merasa kecewa dia ada di sampingku. Semua nasehat-nasehatnya seperti terus mengikutiku.
Selama tiga bulan perasanku seperti mati rasa. Aku hidup dalam dunia fantasi dimana dia ada di dalamnya. Orang bilang aku depresi, tapi menurutku aku sedang menikmati khayalanku. Aku lebih banyak diam dan melamun. Terkadang aku tidak bisa makan dan hanya menangis. Seperti inikah rasanya kehilangan? Tapi aku tidak pernah merasa memiliki? Pertanya ini terus saja menari-nari dalam pikiranku.
Untunglah aku selalu memiliki orang-orang yang peduli dan baik padaku. Sahabat-sahabatku yang selalu membrikan perhatiannya padaku. Terimakasih untuk sahabat-sahabtaku tanpa kalian semua aku tidak akan pernah tahu seperti apa aku saat ini.
Dan semua yang tidak bisa di sebutkan satupersatu...
Komentar
Posting Komentar