Dear future

Apa kamu pernah patah hati lalu jatuh cinta lagi? 

Dulu saat aku tidak bisa lari dari patah hatiku, dari rasa kecewaku, aku selalu belajar untuk jatuh cinta lagi. Semakin sakit semakin banyak aku mencari cinta. Seperti orang bodoh yang sedang mencari pembenaran. 

Entah itu cinta monyet ..atau cinta pelampiasan semata tapi itulah yang ku pilih. Patah hati dan terluka lagi tidak membuatku jera untuk jatuh cinta lagi. Semua terus saja terjadi bergulir berganti sampai titik terberat dimana aku harus memilih masa depanku. 

Saat aku mulai kelas XII Sekolah Menengah Atas disitu aku harus memilih masa depanku. Mau seperti apa aku menjalani hidupku, mau seperti apa pekerjaan yang ku pilih. Ayahku bukanlah orang yang keras tapi soal masa depan, ayah adalah orang yang selalu ingin yang terbaik terutama soal pendidikan.

Di situlah aku mulai berhenti berfikir tentang hati dan permainan hati yang selama ini ku jalani. Satu persatu mulaiku tata kembali hal yang sudah ku buang. Mimpi dan masa depanku. 

Aku memilih salah satu sekolah tinggi swasta yang bergerak di bidang komputer di jogja. Karna dekat dengan rumah dan lagi biaya kuliah juga terjangkau saat itu. Dan hal bonusnya lebih banyak kaum adamnya ketimbang kaum hawanya. Itung-itung vitamin mata.


Saat mulai ospek atau perkenalan mahasiswa baru di kampus disitulah aku terkejut. Ada salah satu mantan sama-sama masuk di sini. Antara gr sama risih dan takut juga. Salahku memang dulu seenaknya sendiri mutus in orang yang baik. Meski saling pandang tapi tidak ada obrolan apapun bahkan sampai lulus.



Menyesal rasanya sudah menyakiti orang. Takut rasanya kalau-kalau dia menghancurkan hidupku yang sekarang. Semua pikiran baik dan burukku jadi satu, membuatku bimbang. Tapi dia tidak sejahat itu. Dia benar-benar orang baik, dia punya kesempata untuk menghancurkan hidupku tapi dia tidak melakukannya. 

Lepas dari hal itu pelajaran sangat penting untukku, jangan pernah menyakiti orang lain. Siapapun dia. Karna tidak ada yang pantas untuk tersakiti karna alasan bodoh. Aku merasa bersalah atas apa yang sudahku lakukan. 

Sejujurnya sampai saat inipun aku takut bertemu dengan mereka orang-orang yang pernah mengisi waktuku. Orang-orang yang pernah menghabiskan waktu denganku.


Komentar